loading...

Metode Market Value Added (MVA) Terhadap Penilaian Kinerja Keuangan Perusahaan Serta Mengatasi Kelemahan Akuntansi Tradisional



Pendekatan yang digunakan untuk mengukur kinerja perusahan yang didasarkan pada nilai pasar. Perhitungan terhadap nilai pasar tersebut dikenal dengan istilah Market Value Added (MVA). Market Value Added (MVA) sebagai alat ukur kinerja keuangan dan pasar untuk mengatasi kelemahan metode akuntansi tradisional (rasio keuangan) sebelumnya.Steward and CO juga telah mengemvbangan konsep yang disebut dengan Market Value Added (MVA). MVA adalah selisih antara nilai pasar saham dan utang perusahaan dan jumlah modal yang ditempatkan di perusahaan oleh kreditur dan pemegang saham.

Beberapa waktu ini telah diperkenalkan sebuah konsep yang dapat menyatakan besaran yang langsung mengukur penciptaan nilai yaitu Market Value Added (MVA).

MVA adalah market value (total nilai pasar) semua saham dan hutang perusahaan, yang berarti berapa jumlah yang diperoleh investor jika semua investasinya berupa saham dan obligasi dijual ke pasar finansial dikurangi total modal yang diinvestasikan (berupa ekuitas, laba ditahan, hutang lewat pasar modal dan hutang terhadap bank). Jika MVA positif berarti manajer berhasil menciptakan nilai tambah bagi perusahaan sebaliknya jika MVA negatif maka manajer gagal menciptakan nilai tambah bagi perusahaan.

Penciptaan suatu nilai bagi para pemegang saham sesuai dengan konsep MVA yaitu memaksimumkan kesejahteraan pemegang saham yang dilakukan dengan memaksimumkan selisih antara market value of equity dengan jumlah yang ditanamkan investor ke dalam perusahaan. Selisih tersebut dikenal dengan istilah MVA. MVA dipilih karena konsep ini merupakan ukuran kinerja keuangan secara eksternal, jadi bukan dari nilai pasar perusahaan yang merupakan hasil kali antara jumlah harga saham yang beredar dengan harga pasarnya. Karena nilai pasar perusahaan memiliki kelemahan yaitu untuk perusahaan yang telah go public, nilai pasarnya akan berubah ketika terjadi penjualan saham baru, padahal penambahan pasar dengan cara itu bukanlah merupakan usaha riil perusahaan, sehingga tidak dapat diakui sebagai prestasi kinerja keuangan perusahaan.

Berdasarkan MVA dapat dibuat kontrak untuk menentukan besarnya bonus kinerja bagi pengelola. Masalahnya, MVA adalah ukuran kumulatif jangka panjang. Padahal bonus kinerja biasanya perlu dibayar tiap tahun. Sebagai pendekatan bagi penciptaan nilai setiap tahunnya, diperkenalkan konsep Economic Value Added (EVA) atau konsep nilai tambah ekonomis. EVA adalah laba operasional bersih setelah pajak dikurangi biaya modal. Biaya modal telah mencakup biaya bunga hutang dan biaya ekuitas (biaya modal sendiri). Jika laba ini lebih besar dari biaya modal, maka terciptalah nilai tambah bagi perusahaan. Dalam jangka panjang, penciptaan nilai tahunan ini akan tercermin dalam MVA.

Rumus Perhitungan MVA

Nilai pasar perusahaan merupakan nilai pasar terhadap keseluruhan tuntutan terhadap aktiva perusahaan, yaitu berupa ekuitas, bunga minoritas dan hutang. Nilai pasar perusahaan = nilai pasar saham biasa + bunga minoritas + hutang jangka pendek + hutang jangka panjang + hutang jangka panjang lain.
Untuk menghitung nilai MVA, langkah yang harus ditempuh:
1. Menghitung jumlah saham yang beredar (the number of share outstanding)
2. Menghitung harga pasar saham (share price)
3. Menghitung nilai buku ekonomis per lembar saham (economic book value per share)
4. Menghitung MVA


MVA = Market value - invested Capital

Keterangan:

Market value = nilai utang, saham preferen, dan saham biasa saat ini.

Invested Capital = seluruh kas yang diperoleh dari penyedia dana atau berasal dari keuntungan yang diinvestasikan kembali pada investasi baru di perusahaan sejak perusahaan didirikan. Dalam prakteknya, nilai dalam laporan posisi keuangan (dengan sedikit penyesuaian) yang digunakan.

Contoh:
PT ABC didirikan pada dua puluh tahun lalu dengan modal yang berasal dari saham biasa sebesar Rp 15 milyar. Perusahaan tidak memiliki utang jangka panjang dan saham preferen. Seluruh laba bersih yang dihasilkan diberikan kepada pemegang saham. Saat ini nilai pasar saham PT ABC adalah sebesar Rp40 milyar. Berapakah MVA PT ABC?

MVA = Rp40 milyar - Rp 15 milyar = Rp25 milyar

Dalam praktek, nilai pasar utang jangka panjang dan saham preferen diasumsikan sama dengan nilai bukunya. Hal ini menyebabkan munculnya MVA dengan versi lain.

MVA = Nilai pasar saham biasa - nilai saham biasa

Hasil perhitungan nilai MVA, sama seperti halnya pada metode EVA bisa bernilai positif ataupun negatif. MVA positif jika nilai pasar perusahaan lebih besar daripada modal yang diinvestasikan yang berarti kekayaan telah diciptakan. Sebaliknya MVA negatif jika nilai pasar perusahaan lebih kecil daripada modal yang diinvestasikan, yang berarti kekayaan telah dimusnahkan.

Nilai MVA yang positif menandakan bahwa nilai pasar perusahaan lebih tinggi dibandingkan dengan nilai buku perusahaan. Hal ini seharusnya membuat para investor tertarik untuk melakukan investasi pada perusahaan. Banyaknya investor yang tertarik seharusnya mampu menaikkan jumlah permintaan terhadap saham tersebut sehingga mampu menaikkan harga saham tersebut. Naiknya harga saham akan membawa pengaruh positif terhada return perusahaan dari sisi capital gainnya.

Hal-hal yang perlu diperhatikan ketika menggunakan MVA

1. Memperkirakan jumlah kas yang diinvestasikan.
Mengukur jumlah modal yang dimasukkan atau ditahan dalam bisnis setelah diperdagangkan beberapa tahun dapat menghadirkan masalah. Misalnya, apakah pengeluaran penelitian dan pengembangan menghasilkan aset atau dibebankan pada laporan laba rugi? Laporan Posisi Keuangan yang disusun oleh akuntan tidak dirancang untuk mengukur modal yang dipasok oleh penyedia modal.

2. Kapan nilai diciptakan?
Fakta bahwa hasil MVA yang positif sering dibatasi saat akan digunakan untuk mengevaluasi manajemen yang ada. Misalnya MVA yang ada saat ini adalah hasil dari manajemen-manajemen sebelumnya sehingga sulit untuk menentukan berapa MVA yang diciptakan oleh manajemen yang ada saat ini.

3. Apakah tingkat pengembaliannya cukup tinggi?
Sangat sulit untuk mengetahui apakah MVA yang dihasilkan sudah cukup sehingga memberikan tingkat pengembalian yang memuaskan untuk penyedia modal.

4. Inflasi mendistorsi angka MVA
Jika elemen modal yang digunakan untuk mengukur MVA berasal dari angka-angka yang ada pada Laporan Posisi Keuangan dan terjadi inflasi maka nilai dari modal yang digunakan akan lebih rendah dari yang sebenarnya. Hasilnya MVA akan kelihatan lebih tinggi.

5. Percaya bahwa harga pasar saham adalah selalu benar selamanya.
Ini adalah asumsi yang paling mengganggu karena MVA tidak harus selalu membutuhkan efisiensi pada penetapan harga.

6. MVA bukan ukuran yang absolut.
Perusahaan besar akan selalu memiliki MVA yang besar. Hal ini membuat perbandingan MVA antara perusahaan-perusahaan yang ada menjadi sulit karena adanya perbedaan ukuran modal perusahaan.

Konsep MVA terdiri dari :


  1. Jumlah saham yang beredar yaitu jumlah saham yang beredar pada tahun tertentu dari masing-masing emiten.
  2. Harga saham adalah harga pasar saham pada saat penutupan akhir suatu tahun tertentu.
  3. EPS merupakan salah satu rasio keuangan yang sering digunakan investor saham atau calon investor untuk menganalisis kemampuan perusahaan mencetak laba berdasarkan saham yang dimiliki. EPS = laba bersih – deviden saham preferen / rata-rata tertimbang jumlah saham biasa yang beredar. EPS dapat digunakan untuk menganalisis profitabilitas suatu saham oleh para analis surat berharga. EPS positif berarti perusahaan laba dan sebaliknya.


Cara Peningkatkan MVA

Cara meningkatkan MVA dapat dilakukan dengan tiga cara (Stewart III, 1992) yaitu :

  1. Meningkatkan efisiensi operasional yang berpengaruh dan selisih antara rate of return dan WACC (Weighted Average Cost of Capital). Rate of return = NOPAT/ capital. Capital = jumlah dana yang terdiri dari hutang berbunga dan ekuitas saham.
  2. Menambah jumlah modal yang diinvestasikan ke dalam suatu proyek di mana selisih antara rate of return dan WACC (Weighted Average Cost of Capital) berharga positif.
  3. Menarik kembali modal dari operasional jika rate of return lebih kecil dari WACC.

Author:

Belajarlah dan berusahalah selagi mampu, jika tidak hanya akan tersisa penyesalan yang tak akan memberikan apapun... Website : www.e-akuntansi.com

loading...