loading...

Laba Operasi : Perhitungan Pendapatan yang Dikurangi Biaya-biaya Terkait dengan Operasi Perusahaan


LABA OPERASI

Menurut Harnanto (2002:97), “laba usaha (laba operasi) meliputi, semua pendapatan dan beban, serta untung dan rugi yang berasal dari on going operations atau transaksi-transaksi terkait dengan usaha pokok dan di luar usaha pokok perusahaan”. Warren, et al. (2006 : 303) berpendapat bahwa “laba operasi (operating income), sering disebut dengan income from operations, ditentukan dengan mengurangkan beban operasi dari laba kotor”. Senada dengan pendapat yang dikemukakan oleh Dyckman, et al. (2000 : 115), yaitu “laba operasi atau hasil operasi dihitung dengan mengurangkan beban-beban operasi dari pendapatan atau marjin kotor”, dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa laba usaha adalah laba yang diperoleh dari kegiatan utama perusahaan, dimana laba usaha tersebut diperoleh dari selisih laba kotor dengan beban operasi (beban usaha).

Soemarso (2005 : 226) juga berpendapat bahwa “selisih antara laba bruto dan biaya usaha disebut laba usaha (income from operation) atau laba operasi (operating income). Laba usaha adalah laba yang diperoleh semata-mata dari kegiatan utama perusahaan”. Laba bruto merupakan selisih antara pendapatan dari penjualan dengan harga pokok penjualan (Soemarso, SR, 2004:235). Oleh karena itu, akun-akun pendapatan dan beban dipergunakan untuk mencari besarnya laba.

Seperti dinyatakan pada penelitian Daniarti dan Suhairi (2006), riset akuntansi mengenai laba terutama yang mencari hubungan angka laba dengan harga saham maupun return saham, selalu menggunakan angka laba operasi atau laba per saham (Earnings Per Share) yang dihitung menggunakan angka laba bersih dan jarang yang menggunakan angka laba kotor. Sementara itu, Febrianto dan Widiastuty (2005) menguraikan bahwa riset-riset akuntansi keuangan, terutama yang mencari hubungan angka laba dengan harga saham selalu menggunakan laba operasi atau EPS yang dihitung menggunakan angka laba bersih dan tidak pernah angka laba kotor. Alasan dari penelitian yang dilakukan Febrianto dan Widiastuty (2005) berasal dari pertanyaan mengapa di dalam penelitian-penelitian yang menggunakan angka laba, para peneliti selalu (atau setidaknya memprioritaskan) penggunaan laba operasi dan laba bersih, belum ditemukan yang menggunakan laba kotor.

Angka laba operasi adalah selisih laba kotor dengan biaya-biaya operasi. Biaya-biaya operasi adalah biaya-biaya yang berhubungan dengan operasi perusahaan atau biaya-biaya yang sering terjadi di dalam perusahaan dan bersifat operatif. Selain itu, biaya-biaya ini diasumsikan memiliki hubungan dengan penciptaan pendapatan. Diantara biaya-biaya operasi tersebut adalah : biaya gaji karyawan, biaya administrasi, biaya perjalanan dinas, biaya iklan dan promosi, biaya penyusutan dan lain-lain.

Ika Kusumaningtyas (2003) menyatakan bahwa laba yang diklasifikasikan menjadi laba operasi dan laba non operasi memiliki daya prediksi untuk memprediksi arus kas di masa mendatang serta menunjukkan hubungan positif dengan arus kas masa mendatang. Akan tetapi, hasil penelitian ini tidak menspesifikan kandungan informasi dari laba manakah yang lebih mampu memprediksi arus kas di masa mendatang.

Pilihan metode akuntansi banyak ditemukan di dalam penyusunan laporan keuangan, termasuk di dalam penyusunan laporan laba-rugi. Laba kotor dilaporkan lebih awal daripada laba operasi. Laba operasi dilaporkan lebih awal dibandingkan dengan laba bersih. Dari hasil laba operasi dapat dilihat perhitungan pendapatan yang dikurangi dengan biayabiaya yang berkaitan dengan operasi perusahaan, seperti biaya iklan, biaya gaji, biaya administrasi, penyusutan dan lain-lain. Biaya-biaya ini sebenarnya tidak berhubungan langsung dalam menciptakan pendapatan, atau tidak sepenuhnya berhubungan dengan operasi perusahaan dan juga masih dipengaruhi oleh kebijakan perusahaan.

Menurut Stice, Stice, dan Skousen (2004: 243) “laba operasi mengukur kinerja operasi bisnis fundamental yang dilakukan oleh sebuah perusahaan dan didapat dari laba kotor dikurangi beban operasi”. Laba operasi menunjukkan seberapa efisien dan efektif perusahaan melakukan aktivitas operasinya. Untuk memperoleh laba, perusahaan harus melakukan kegiatan operasionalnya. Laba yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah laba operasional. Angka laba operasional adalah selisih laba kotor dengan biayabiaya operasi. Biaya-biaya operasi adalah biaya-biaya yang berhubungan dengan operasi perusahaan. Jadi, apa yang diukur oleh laba dan komponen-komponennya adalah penting untuk dapat memahami dan menginterpretasikan keadaan keuangan suatu perusahaan.

Carslaw (1991) mengatakan ada dua alasan mengapa perusahaan yang mendapatkan laba yang kecil, audit delaynya lebih besar. Pertama, pada saat perusahaan memperoleh laba yang rendah, perusahaan akan menunda berita buruk yang kemungkinan terjadi dan mencari jadwal baru dalam pengauditan. Kedua, auditor harus waspada pada saat proses audit bahwa perolehan laba yang rendah mungkin disebabkan karena kegagalan keuangan perusahaan dan dan faktor-faktor lain yang kemungkinan mempengaruhi keterlambatan penerbitan pelaporan keuangan.

Laba operasi mencerminkan kinerja perusahaan yang akan menentukan kelangsungan hidup perusahaan tersebut. Besarnya laba yang dihasilkan oleh perusahaan sangat berpengaruh terhadap ketepatan waktu dalam penyusunan laporan audit.

Laba operasi (operating income) merupakan suatu pengukuran laba perusahaan yang berasal dari aktivitas operasi yang masih berlangsung (Subramanyam 2010:9). Angka laba operasi adalah selisih laba kotor dengan biaya-biaya operasi (Kieso, 2005). Biaya-biaya operasi adalah biaya-biaya yang berhubungan dengan operasi perusahaan atau biaya-biaya yang sering terjadi di dalam perusahaan dan bersifat operatif. Selain itu, biaya-biaya ini diasumsikan memiliki hubungan dengan penciptaan pendapatan. Diantara biaya-biaya operasi tersebut adalah biaya gaji karyawan, biaya administrasi, biaya perjalanan dinas, biaya iklan dan promosi, biaya penyusutan dan lain-lain. Laba operasi diukur dengan angka laba operasi periode berjalan yang berasal dari selisih laba kotor, beban penjualan dan beban administrasi umum.

Konsep laba periode memusatkan pada laba operasi periode berjalan yang berasal dari kegiatan normal perusahaan. Oleh karena itu, yang termasuk elemen laba adalah peristiwa atau perubahan nilai yang dapat dikendalikan manajemen berasal dari keputusankeputusan periode berjalan. Kesalahan perhitungan laba periode sebelumnya tidak menunjukkan efisiensi manajemen periode berjalan. Kesalahan tersebut merupakan ukuran untuk menilai efisiensi manajemen periode sebelumnya.

RUMUS Laba Operasi :

Laba operasi merupakan selisih antara laba bruto dengan beban usaha


  • Laba bruto - Beban usaha = Laba usaha

Author:

Belajarlah dan berusahalah selagi mampu, jika tidak hanya akan tersisa penyesalan yang tak akan memberikan apapun... Website : www.e-akuntansi.com

Loading...

loading...