MENDOKUMENTASIKAN PEMAHAMAN ATAS STANDAR PENGENDALIAN INTERN (SPI)

MENDOKUMENTASIKAN PEMAHAMAN ATAS STANDAR PENGENDALIAN INTERN (SPI)
MENDOKUMENTASIKAN PEMAHAMAN ATAS STANDAR PENGENDALIAN INTERN (SPI)

Mendokumentasikan pemahaman atas SPI merupakan langkah penting dalam proses audit. Dokumentasi yang memadai akan membantu auditor dalam:

  • Merencanakan audit: Dengan memahami SPI, auditor dapat menentukan jenis pengujian yang akan dilakukan dan tingkat pengujian yang diperlukan.
  • Melakukan pengujian: Dokumentasi SPI dapat digunakan sebagai panduan selama pengujian audit untuk memastikan bahwa semua komponen SPI telah diuji.
  • Menilai risiko pengendalian: Pemahaman SPI memungkinkan auditor untuk menilai risiko bahwa salah saji material akan terjadi akibat inefektivitas pengendalian.
  • Menyusun laporan audit: Dokumentasi SPI dapat digunakan untuk mendukung temuan audit dan kesimpulan tentang efektivitas SPI.

Elemen-elemen Dokumentasi SPI

Dokumentasi SPI harus mencakup informasi berikut:

  • Deskripsi SPI: Jelaskan struktur organisasi SPI, termasuk peran dan tanggung jawab manajemen dan personel lainnya.
  • Identifikasi risiko: Jelaskan risiko-risiko yang dihadapi entitas dan bagaimana SPI dirancang untuk memitigasi risiko tersebut.
  • Aktivitas pengendalian: Jelaskan aktivitas pengendalian yang diterapkan untuk setiap risiko, termasuk bagaimana aktivitas tersebut dirancang dan dioperasikan.
  • Informasi komunikasi: Jelaskan bagaimana informasi tentang SPI dikomunikasikan dalam organisasi.
  • Pemantauan: Jelaskan bagaimana SPI dipantau untuk memastikan efektivitasnya.

Format Dokumentasi SPI

Dokumentasi SPI dapat disajikan dalam berbagai format, seperti:

  • Narasi: Deskripsi tertulis tentang SPI.
  • Bagan alir: Bagan yang menunjukkan alur aktivitas pengendalian.
  • Tabel: Tabel yang merangkum elemen-elemen SPI.
  • Kuesioner: Kuesioner yang digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang SPI.

Format yang dipilih harus sesuai dengan kebutuhan auditor dan entitas.

Tips untuk Mendokumentasikan SPI

Berikut adalah beberapa tips untuk mendokumentasikan SPI:

Gunakan bahasa yang jelas dan ringkas. 

  • Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh semua pihak yang akan membaca dokumentasi, termasuk auditor, manajemen, dan pemangku kepentingan lainnya.
  • Hindari penggunaan istilah teknis yang berlebihan dan jelaskan istilah yang rumit dengan cara yang sederhana.
  • Pastikan dokumentasi SPI disusun secara logis dan terstruktur dengan baik agar mudah dinavigasi dan dipahami.

Fokus pada informasi yang relevan dengan audit.

  • Dokumentasikan hanya informasi yang esensial dan relevan dengan proses audit dan pemahaman SPI.
  • Hindari memasukkan informasi yang tidak perlu atau tidak terkait dengan tujuan dokumentasi.
  • Prioritaskan informasi yang penting untuk menilai risiko pengendalian dan efektivitas SPI.

Gunakan bukti untuk mendukung dokumentasi.

  • Dukung semua pernyataan dan kesimpulan dalam dokumentasi SPI dengan bukti yang memadai.
  • Bukti dapat berupa dokumen internal, catatan observasi, hasil pengujian audit, atau wawancara dengan personel entitas.
  • Pastikan bukti yang digunakan akurat, relevan, dan dapat diverifikasi.

Perbarui dokumentasi secara berkala.

  • Perbarui dokumentasi SPI secara berkala untuk mencerminkan perubahan dalam SPI entitas.
  • Lakukan review dan update berkala minimal setahun sekali atau lebih sering jika terjadi perubahan signifikan dalam SPI.
  • Pastikan dokumentasi SPI selalu terkini dan relevan dengan kondisi terkini entitas.

Gunakan format yang konsisten dan terstruktur untuk seluruh dokumentasi SPI.

  • Gunakan template standar untuk semua dokumen SPI.
  • Terapkan format yang sama untuk penomoran, judul, dan subjudul.
  • Gunakan gaya penulisan yang konsisten, termasuk tata bahasa, ejaan, dan tanda baca.

Buatlah dokumentasi SPI yang ringkas dan mudah dibaca.

  • Gunakan kalimat yang pendek dan jelas.
  • Hindari penggunaan jargon dan istilah teknis yang tidak perlu.
  • Gunakan poin-poin dan daftar untuk informasi yang kompleks.
  • Sisipkan ruang putih yang cukup untuk membuat dokumen mudah dibaca.

Gunakan visualisasi seperti bagan alir, tabel, dan diagram untuk memperjelas informasi kompleks.

  • Gunakan bagan alir untuk menggambarkan alur proses bisnis dan pengendalian internal.
  • Gunakan tabel untuk meringkas data dan informasi penting.
  • Gunakan diagram untuk menunjukkan hubungan antara berbagai komponen SPI.

Simpan dokumentasi SPI di tempat yang aman dan mudah diakses oleh pihak yang berkepentingan.

  • Simpan dokumentasi SPI di lokasi yang aman dan terpusat, seperti sistem penyimpanan cloud atau server internal.
  • Berikan akses yang sesuai kepada auditor, manajemen, dan pemangku kepentingan lainnya.
  • Pastikan dokumentasi SPI selalu diperbarui dan mudah diakses.

Lakukan pelatihan kepada auditor dan staf tentang cara menggunakan dan memahami dokumentasi SPI.

  • Berikan pelatihan kepada auditor dan staf tentang cara menggunakan dan memahami dokumentasi SPI.
  • Jelaskan struktur dan isi dokumentasi SPI.
  • Latih auditor dan staf untuk mencari informasi yang mereka butuhkan dalam dokumentasi SPI.
  • Dorong auditor dan staf untuk memberikan umpan balik untuk meningkatkan dokumentasi SPI.

Mendokumentasikan SPI dengan format yang konsisten, ringkas, dan mudah dipahami sangat penting untuk memastikan bahwa semua pihak yang berkepentingan dapat memahami dan menggunakan informasi SPI secara efektif. Dengan mengikuti tips-tips di atas, Anda dapat membuat dokumentasi SPI yang bermanfaat dan mendukung tujuan pengendalian internal organisasi Anda.

Manfaat Mendokumentasikan SPI

Mendokumentasikan SPI memiliki beberapa manfaat, antara lain:

  1. Meningkatkan kualitas audit: Dokumentasi yang memadai dapat membantu auditor dalam merencanakan, melakukan, dan melaporkan audit dengan lebih baik.

    Perencanaan Audit yang Lebih Baik: Dokumentasi SPI yang lengkap memberikan gambaran menyeluruh tentang sistem pengendalian internal entitas, memungkinkan auditor untuk:

    • Mengidentifikasi area risiko yang tinggi dan merencanakan pengujian audit yang lebih fokus.
    • Memilih prosedur audit yang tepat dan mengalokasikan sumber daya audit secara efektif.
    • Menghindari duplikasi pengujian dan meningkatkan efisiensi audit.

      Pelaksanaan Audit yang Lebih Efektif: Dokumentasi SPI menjadi panduan bagi auditor selama proses audit:

      • Memudahkan auditor dalam memahami dan mengikuti alur proses bisnis entitas.
      • Membantu auditor dalam mengidentifikasi kontrol kunci dan mengevaluasi efektivitasnya.
      • Memudahkan auditor dalam mendokumentasikan temuan audit dan mendukung kesimpulannya.

        Pelaporan Audit yang Lebih Jelas: Dokumentasi SPI menjadi dasar bagi auditor dalam menyusun laporan audit yang komprehensif:

        • Memberikan penjelasan yang jelas tentang SPI entitas dan bagaimana kinerjanya.
        • Mengidentifikasi kelemahan dan risiko yang signifikan dalam SPI.
        • Memberikan rekomendasi yang jelas untuk perbaikan SPI.
  2. Meningkatkan efektivitas SPI: Dokumentasi SPI dapat membantu manajemen dalam mengidentifikasi dan memperbaiki kelemahan dalam SPI.

    Identifikasi Kelemahan SPI: Dokumentasi SPI yang terstruktur membantu manajemen dalam:

    • Memahami desain dan implementasi SPI secara menyeluruh.
    • Mengidentifikasi area SPI yang lemah atau tidak efektif.
    • Menentukan prioritas perbaikan SPI berdasarkan risiko yang dihadapi entitas.

      Peningkatan SPI Berkelanjutan: Dokumentasi SPI menjadi dasar bagi proses evaluasi dan perbaikan SPI yang berkelanjutan:

      • Memungkinkan manajemen untuk memantau efektivitas SPI secara berkala.
      • Mendukung pengambilan keputusan untuk melakukan modifikasi dan peningkatan SPI.
      • Meningkatkan budaya pengendalian internal dalam organisasi.
  3. Meningkatkan akuntabilitas: Dokumentasi SPI dapat membantu memastikan bahwa manajemen bertanggung jawab atas efektivitas SPI.

    Memastikan Tanggung Jawab Manajemen: Dokumentasi SPI yang jelas dan akuntabel:

    • Menetapkan tanggung jawab manajemen atas desain, implementasi, dan efektivitas SPI.
    • Memudahkan pemangku kepentingan untuk menilai kinerja manajemen dalam mengelola risiko.
    • Mendukung penerapan tata kelola perusahaan yang baik (GCG).

      Meningkatkan Transparansi: Dokumentasi SPI yang mudah diakses:

      • Meningkatkan transparansi SPI kepada pemangku kepentingan internal dan eksternal.
      • Membangun kepercayaan terhadap keandalan informasi keuangan dan pelaporan entitas.
      • Mendukung akuntabilitas manajemen dalam pengelolaan sumber daya entitas.

Mendokumentasikan pemahaman atas SPI merupakan bagian penting dari proses audit. Dokumentasi yang memadai dapat membantu auditor dalam meningkatkan kualitas audit, efektivitas SPI, dan akuntabilitas manajemen.

Tiga metode yang biasanya digunakan dalam mendokumentasikan pemahaman struktur pengendalian intern adalah dalam bentuk naratif, bagan arus, dan kuesioner pengendalian intern. Hal ini dapat digunakan sendiri – sendiri atau bersama – sama, seperti diuraikan dibawah ini :
 

Naratif

Naratif adalah deskripsi tertulis dari struktur pengendalian intern klien. Narasi sistem akuntansi dan prosedur pengendalian terkait yang pantas mencakup empat karakteristik :
a.              Permulaan timbulnya setiap dokumen dan catatan dalam sistem. Misalnya, deskripsi harus menyatakan darimana pesanan pelanggan berasal dan bagaimana faktur penjualan timbul.
b.             Seluruh pemrosesan yang terjadi. Misalnya, kalau jumlah penjualan ditentukan oleh program komputer yang mengalikan kuantitas dikirim dengan harga standar, hal ini seharusnya diuraikan
c.              Penyelesaian setiap dokumen dan catatan dalam sistem. Pengarsipan dokumen, pengiriman ke pelanggan, atau pemusnahannya seharusnya ditunjukkan.
d.             Indikasinya adanya prosedur pengendalian yang relevan untuk penetapan resiko pengendalian. Ini biasanya mencakup pemisahan tugas (seperti pemisahan pencatatan kas dari pemegang kas), otorisasi dan persetujuan (seperti persetujuan kredit), dan verifikasi intern (seperti perbandingan harga jual per unit dengan kontrak penjualan).

Bagan Arus

Bagan arus pengendalian intern (BAPI) merupakan representasi visual dari sistem pengendalian intern (SPI) dalam suatu organisasi. BAPI menggunakan simbol dan diagram untuk menggambarkan dokumen klien dan urutan alur proses dalam organisasi.
Karakteristik Utama BAPI:

BAPI yang memadai memiliki empat karakteristik utama, yaitu:

  1. Ketepatan: BAPI harus secara akurat mencerminkan proses dan kontrol yang sebenarnya ada dalam organisasi.
  2. Kelengkapan: BAPI harus mencakup semua aktivitas dan kontrol yang relevan dengan tujuan audit.
  3. Kejelasan: BAPI harus mudah dipahami oleh auditor dan pihak lain yang berkepentingan.
  4. Konsistensi: BAPI harus menggunakan simbol dan diagram yang konsisten untuk mewakili elemen-elemen SPI.

Manfaat BAPI:

BAPI menawarkan beberapa manfaat bagi auditor dan organisasi, antara lain:

  • Mempermudah pemahaman SPI: BAPI membantu auditor dalam memvisualisasikan alur proses dan kontrol dalam organisasi, sehingga memudahkan pemahaman SPI secara keseluruhan.
  • Meningkatkan efisiensi audit: BAPI dapat membantu auditor dalam mengidentifikasi area risiko dan menentukan prosedur audit yang tepat.
  • Meningkatkan komunikasi: BAPI dapat digunakan sebagai alat komunikasi untuk menjelaskan SPI kepada manajemen, staf, dan pemangku kepentingan lainnya.
  • Mendukung dokumentasi SPI: BAPI dapat melengkapi dokumentasi SPI naratif dan memberikan gambaran yang lebih jelas tentang sistem pengendalian intern.

Jenis-jenis BAPI:

Ada beberapa jenis BAPI yang umum digunakan, antara lain:

  • Bagan arus dokumen: Menunjukkan alur dokumen dalam suatu proses, termasuk otorisasi, pencatatan, dan penyimpanan.
  • Bagan arus aktivitas: Menunjukkan langkah-langkah dalam suatu proses, termasuk siapa yang bertanggung jawab untuk setiap langkah dan kontrol yang diterapkan.
  • Bagan arus keputusan: Menunjukkan alur keputusan dalam suatu proses, termasuk kondisi yang menentukan langkah selanjutnya.

Pembuatan BAPI:

Pembuatan BAPI biasanya dilakukan dalam beberapa langkah, yaitu:

  1. Pemetaan proses: Mengidentifikasi dan mendokumentasikan langkah-langkah utama dalam suatu proses.
  2. Identifikasi kontrol: Mengidentifikasi kontrol yang diterapkan untuk setiap langkah dalam proses.
  3. Pemilihan simbol dan diagram: Memilih simbol dan diagram yang tepat untuk mewakili elemen-elemen SPI.
  4. Pembuatan BAPI: Menggambar BAPI menggunakan simbol dan diagram yang dipilih.
  5. Review dan revisi: Meninjau BAPI untuk memastikan ketepatan, kelengkapan, kejelasan, dan konsistensi.

BAPI merupakan alat yang berharga bagi auditor dan organisasi untuk memahami, mengevaluasi, dan mendokumentasikan SPI. BAPI yang dibuat dengan baik dapat meningkatkan efisiensi audit, komunikasi, dan dokumentasi SPI, ultimately contributing to the effectiveness of the internal control system.

Kuesioner Pengendalian Intern: Menggali Informasi Struktur SPI

Kuesioner pengendalian intern (KPI) adalah alat yang digunakan auditor untuk mengumpulkan informasi tentang struktur dan efektivitas SPI dalam suatu organisasi. KPI terdiri dari serangkaian pertanyaan yang dirancang untuk menyelidiki berbagai aspek SPI, termasuk lingkungan pengendalian, aktivitas pengendalian, informasi dan komunikasi, dan kegiatan pemantauan.

Tujuan KPI:

KPI memiliki beberapa tujuan utama, yaitu:

  • Memperoleh pemahaman awal tentang SPI: KPI membantu auditor dalam mendapatkan gambaran umum tentang SPI dan mengidentifikasi area potensial yang berisiko.
  • Mengidentifikasi kelemahan SPI: KPI dapat digunakan untuk mengidentifikasi kelemahan dalam desain dan implementasi SPI.
  • Mendukung pengujian audit: Informasi yang diperoleh dari KPI dapat digunakan untuk merancang dan melaksanakan prosedur audit yang lebih efektif.
  • Meningkatkan efisiensi audit: KPI dapat membantu auditor dalam memfokuskan upaya audit pada area yang berisiko tinggi.

Jenis-jenis KPI:

Ada dua jenis utama KPI, yaitu:

  • Kuesioner terstruktur: Kuesioner ini terdiri dari pertanyaan pilihan ganda atau ya/tidak yang dapat dijawab dengan mudah oleh responden.
  • Kuesioner tidak terstruktur: Kuesioner ini terdiri dari pertanyaan terbuka yang memungkinkan responden untuk memberikan jawaban yang lebih rinci.

Pembuatan KPI:

Pembuatan KPI biasanya dilakukan dalam beberapa langkah, yaitu:

  1. Pengembangan pertanyaan: Auditor menyusun pertanyaan yang relevan dengan tujuan audit dan elemen-elemen SPI.
  2. Pengujian pertanyaan: Auditor menguji pertanyaan pada sampel kecil responden untuk memastikan kejelasan dan validitasnya.
  3. Penyempurnaan pertanyaan: Auditor menyempurnakan pertanyaan berdasarkan hasil pengujian.
  4. Distribusi KPI: KPI didistribusikan kepada responden yang relevan, seperti manajemen, staf, dan pemangku kepentingan lainnya.
  5. Analisis jawaban: Auditor menganalisis jawaban KPI untuk mengidentifikasi potensi kelemahan SPI.

Tips untuk Menggunakan KPI:

  • Gunakan KPI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti penilaian profesional auditor.
  • Sesuaikan KPI dengan kebutuhan spesifik organisasi dan lingkup audit.
  • Pastikan pertanyaan KPI jelas, ringkas, dan mudah dipahami.
  • Gunakan kombinasi KPI terstruktur dan tidak terstruktur untuk mendapatkan informasi yang lebih komprehensif.
  • Lakukan follow-up dengan responden untuk memverifikasi jawaban dan mendapatkan informasi tambahan.

KPI merupakan alat yang penting bagi auditor untuk mendapatkan informasi tentang SPI dan mengidentifikasi potensi kelemahan dalam sistem pengendalian intern. KPI yang digunakan dengan tepat dapat membantu auditor dalam meningkatkan kualitas audit dan efektivitas SPI.

Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...