Pengauditan Siklus Pengeluaran

 
Pengauditan Siklus Pengeluaran

KONSEP DASAR SIKLUS PENGELUARAN

Siklus pengeluaran merupakan salah satu siklus paling penting dalam sistem akuntansi suatu perusahaan, karena dalam siklus ini akan menunjukkan seberapa besar perusahaan membeli barang atau jasa sampai melakukan pembayaran atas barang atau jasa yang telah digunakan. Pada siklus pengeluaran, hampir semua semua transaksi pembelian dan pembayaran akan berujung kepada satu akun, yakni akun utang (account payable). Sehingga akun ini sangat penting untuk diteliti dalam proses audit atas siklus pengeluaran. Dalam Arens et.al (2009) dijelaskan bahwa akun utang adalah segala macam kewajiban yang belum terbayarkan atas barang dan jasa yang diterima dari kegiatan yang secara biasa dilakukan dalam bisnis seperti kewajiban saat membeli bahan baku, peralatan, perlengkapan, dan berbagai jenis barang dan jasa lainnya yang diterima sebelumakhir tahun atau periode.

Tujuan Audit dalam Siklus Pengeluaran

Manajemen akan menetapkan asersi implisit atau eksplisit tentang transaksi dan saldo siklus pengeluaran dalam laporan keuangan perusahaan. Asersi-asersi ini mendefinisikan tujuan audit spesifik dari program audit siklus pengeluaran. Kebanyakan audit atas siklus pengeluaran mencakup tujuan-tujuan utama tersebut, tetapi tidak dimaksudkan untuk membahas semua situasi yang dihadapi klien. Untuk mencapai tujuan audit spesifik tersebut, auditor menggunakan bagian dari metode perencanaan dan pengujian audit.

Kelompok asersi : Eksistensi dan Okurensi
Tujuan audit terhadap golongan transaksi, meliputi :

  • Transaksi pembelian mencerminkan barang dan jasa yang baik yang diterima dari pemasok selam periode yang diaudit.
  • Transaksi pengeluaran kas mencerminkan pembayaran yang dilakukan kepada pemasok selam periode yang diaudit.

Tujuan audit terhadap saldo akun, meliputi :

  • Hutang usaha yang tercatat mencerminkan jumlah kewajiban entitas yang ada pada tanggal neraca.
  • Aktiva tetap mencerminkan aktiva produktif yang masih dimanfaatkan pada tanggal neraca.
  • Aktiva tidak berwujud mencerminkan aktiva produktif yang masih dimanfaatkan pada tanggal neraca.

Kelompok asersi: Kelengkapan/Kesempurnaan
Tujuan audit terhadap golongan transaksi, meliputi :

  • Semua transaksi mencakup pembelian dan pengeluaran kas yang terjadi selama periode yang diaudit telah dicatat.

Tujuan audit terhadap saldo akun, meliputi :

  • Hutang usaha mencakup semua jumlah yang terhutang kepada pemasok barang dan jasa pada tanggal neraca.
  • Saldo aktiva tetap mencakup semua transaksi perubahan yang terjadi selama periode yang diaudit.
  • Saldo aktiva tidak berwujud mencakup semua transaksi perubahan yang terjadi selama periode yang diaudit.
  • Saldo aktiva tidak berwujud mencerminkan aktiva produktif yang masih dimanfaatkan pada tanggal neraca.

Kelompok asersi : Hak dan Kewajiban
Tujuan audit terhadap golongan transaksi, meliputi :

  • Entitas memiliki kewajiban sebagai akibat transaksi pembelian yang tercatat dalam periode yang diaudit.
  • Entitas memiliki hak atas aktiva tetap sebagai transaksi pembelian yang tercatat dalam periode yang diaudit.
  • Entitas memiliki hak atas aktiva tidak berwujud sebagai akibat transaksi pembelian yang tercatat dalam periode yang diaudit.

Tujuan audit terhadap saldo akun, meliputi :

  • Hutang usaha pada tanggal neraca mencerminkan kewajiban entitas kepada pemasok.
  • Entitas memiliki hak atas aktiva tetap yang tercatat pada tanggal neraca.
  • Entitas memiliki hak atas aktiva tidak berwujud yang tercatat pada tanggal neraca.

Kelompok asersi: Penilaian atau Alokas
Tujuan audit terhadap golongan transaksi, meliputi:

  • Semua transaksi pembelian dan pengeluaran kas yang telah dicatat dalam jurnal, diringkas, dan diposting ke dalam akun dengan  benar.

Tujuan audit terhadap saldo akun, meliputi:

  • Hutang usaha dinyatakan dalam jumlah yang benar kewajiban entitas pada tanggal neraca.
  • Aktiva tetap dinyatakan pada kas dikurangi akumulasi depresiasi.
  • Aktiva tidak berwujud dinyatakan pada kas atau kas dikurangi dengan amortisasi.
  • Biaya yang berkaitan dengan aktiva tetap dan aktiva tidak berwujud dicatat sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum.

Kelompok asersi: Penyajian dan Pengungkapan
Tujuan audit terhadap golongan transaksi, meliputi:

  • Rincian transaksi dan pengeluaran kas mendukung penyajian akun yang berkaitan dalam laporan keuangan, baik klasifikasinya maupun pengungkapannya

Tujuan audit terhadap saldo akun, meliputi:

  • Hutang usaha, aktiva tetap dan aktiva tidak berwujud di identifikasi dan diklasifikasikan dengan semestinya dalam neraca.
  • Pengungkapan memadai telah berkaitan dengan hutang usaha, aktiva tetap dan aktiva tidak berwujud.

KELOMPOK TRANSAKSI DAN AKUN YANG TERKAIT

Dalam siklus ini terdapat dua transaksi pembelian dan transaksi pengeluaran kas. Transaksi pembelian dan pengeluaran kas mempengaruhi sejumlah rekening sebagai berikut :

Transaksi

  • Pembelian barang dan jasa secara kredit
  • Pembelian barang dan jasa secara tunai
  • Pengeluaran kas untuk keperluan operasional
  • Pengeluaran kas untuk keperluan investasi
  • Pengeluaran kas untuk keperluan pendanaan

Akun

1)             Persediaan
2)             Persediaan bahan baku
3)             Biaya dibayar dimuka
4)             Palnt asset
5)             Asset lain-lain
6)             Kembalian pembelian
7)             Potongan pembelian
8)             Berbagai jenis biaya
9)             Utang dagang
10)         Kas

Kelompok transaksi dan akun yang terkait dalam siklus pengeluaran kas dapat dikelompokkan menjadi dua kategori utama, yaitu:

  • Transaksi pembelian
  • Transaksi pengeluaran kas

Transaksi pembelian adalah transaksi yang menyebabkan terjadinya perubahan pada akun persediaan, biaya dibayar dimuka, atau utang dagang. Transaksi pengeluaran kas adalah transaksi yang menyebabkan terjadinya perubahan pada akun kas. Berikut adalah penjelasan lebih lanjut mengenai kelompok transaksi dan akun yang terkait dalam siklus pengeluaran kas:

Transaksi pembelian

  • Pembelian barang dan jasa secara kredit

Transaksi pembelian barang dan jasa secara kredit adalah transaksi yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh barang atau jasa dengan cara berutang kepada pemasok. Transaksi ini menyebabkan terjadinya perubahan pada akun persediaan dan utang dagang.

  • Pembelian barang dan jasa secara tunai

Transaksi pembelian barang dan jasa secara tunai adalah transaksi yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh barang atau jasa dengan cara membayar tunai kepada pemasok. Transaksi ini menyebabkan terjadinya perubahan pada akun persediaan dan kas.

Transaksi pengeluaran kas

  • Pengeluaran kas untuk keperluan operasional

Pengeluaran kas untuk keperluan operasional adalah pengeluaran kas yang dilakukan oleh perusahaan untuk keperluan operasi sehari-hari, seperti biaya gaji, biaya bahan baku, biaya listrik, dan biaya air. Transaksi ini menyebabkan terjadinya perubahan pada akun berbagai jenis biaya dan kas.

  • Pengeluaran kas untuk keperluan investasi

Pengeluaran kas untuk keperluan investasi adalah pengeluaran kas yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh aset tetap, seperti pembelian tanah, bangunan, dan peralatan. Transaksi ini menyebabkan terjadinya perubahan pada akun aktiva tetap dan kas.

  • Pengeluaran kas untuk keperluan pendanaan

Pengeluaran kas untuk keperluan pendanaan adalah pengeluaran kas yang dilakukan oleh perusahaan untuk memperoleh modal dari pihak luar, seperti pembayaran dividen, pelunasan utang, dan pembelian saham. Transaksi ini menyebabkan terjadinya perubahan pada akun kas.

AKTIVITAS – AKTIVITAS YANG ADA DALAM SIKLUS PENGELUARAN

Aktivitas utama dari siklus pengeluaran, diantaranya adalah :

  1. Pemesanan barang dan jasa

Aktivitas ini dimulai dengan identifikasi kebutuhan barang dan jasa yang diperlukan oleh perusahaan. Setelah kebutuhan tersebut teridentifikasi, maka perusahaan akan menyiapkan order pembelian (purchase order) yang ditujukan kepada pemasok. Order pembelian tersebut akan berisi informasi tentang barang atau jasa yang dipesan, jumlah, harga, dan tanggal pengiriman.

  1. Penerimaan barang dan jasa

Setelah barang atau jasa dikirim oleh pemasok, maka perusahaan harus melakukan penerimaan barang dan jasa tersebut. Penerimaan barang dan jasa bertujuan untuk memastikan bahwa barang atau jasa yang diterima sesuai dengan order pembelian yang telah dibuat.

  1. Verifikasi faktur

Setelah barang atau jasa diterima, maka perusahaan akan menerima faktur dari pemasok. Faktur adalah dokumen yang berisi informasi tentang barang atau jasa yang dikirim, jumlah, harga, dan total biaya. Perusahaan harus melakukan verifikasi faktur untuk memastikan bahwa faktur tersebut valid dan sesuai dengan order pembelian dan penerimaan barang dan jasa.

  1. Pembayaran

Setelah faktur diverifikasi, maka perusahaan akan melakukan pembayaran kepada pemasok. Pembayaran dapat dilakukan secara tunai, kredit, atau potongan harga.

Aktivitas-aktivitas tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Identifikasi kebutuhan

Pemesanan barang dan jasa, Penerimaan barang dan jasa, Verifikasi faktur, Pembayaran

Aktivitas-aktivitas dalam siklus pengeluaran harus dirancang dengan baik untuk memastikan bahwa pengeluaran perusahaan dapat dikelola secara efisien dan efektif. Pengendalian internal yang kuat juga harus diterapkan untuk mencegah terjadinya kecurangan atau kesalahan.

PERTIMBANGAN TERHADAP MATERIALITAS, RISIKO DAN STRATEGI AUDIT SIKLUS PENGELUARAN

Transaksi dalam siklus pengeluaran kadangkala tidak hanya berpengaruh secara individual pada hanya satu rekening saja, tetapi dapat berpengaruh pada lebih satu transaksi. Konsep materialitas mengakui bahwa beberapa hal, baik secara individual atau keseluruhan adalah penting bagi kewajaran penyajian laporan keuangan sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia, sedangkan beberapa hal lainnya adalah tidak penting (IAPI:2011). Frasa menyajikan secara wajar dalam semua hal yang material sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia menunjukkan keyakinan auditor bahwa laporan keuangan secara keseluruhan tidak mengandung salah saji material (IAPI:2011). Faktor-faktor risiko melekat yang berhubungan dengan transaksi-transaksi siklus pengeluaran meliputi :
a.              Seberapa banyak volume transaksi.
b.             Kemungkinan adanya pembelian dan pengeluaran kas yang tidak diotorisasi.
c.              Kemungkinan adanya pembelian aktiva yang tidak memadai.
d.             Dalam kasus kapitalisasi kas atau penentuan biaya periodik harus mempertimbangkan terhadap aspek kesinambungan dalam akuntansinya.

Keempat faktor tersebut sangat menentukan seberapakah tingkat risiko melekat dalam transaksi siklus ini. Menghadapi kemungkinan tersebut, auditor harus merumuskan strategi dengan menggabungkan tingkat risiko pengendalian yang rendah dan pengujian substansi dalam siklus pengeluaran.

Pertimbangan terhadap materialitas, risiko dan strategi audit siklus pengeluaran merupakan hal yang penting untuk dilakukan oleh auditor. Materialitas adalah suatu ukuran relatif yang digunakan auditor untuk menentukan apakah informasi salah saji dalam laporan keuangan material atau tidak. Risiko adalah kemungkinan terjadinya salah saji material dalam laporan keuangan. Strategi audit adalah suatu rencana yang disusun oleh auditor untuk mengumpulkan bukti audit yang cukup dan kompeten untuk mendukung opini auditnya.

Dalam siklus pengeluaran, auditor perlu mempertimbangkan materialitas, risiko dan strategi audit secara cermat. Hal ini dikarenakan siklus pengeluaran memiliki risiko bawaan yang tinggi. Risiko bawaan adalah risiko salah saji material yang ada dalam suatu asersi sebelum mempertimbangkan efektivitas pengendalian internal. Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko bawaan dalam siklus pengeluaran antara lain:

  • Volume transaksi yang tinggi
  • Kemungkinan adanya pembelian dan pengeluaran kas yang tidak diotorisasi
  • Kemungkinan adanya pembelian aktiva yang tidak memadai
  • Masalah kesinambungan dalam akuntansi

Risiko bawaan yang tinggi dalam siklus pengeluaran mengharuskan auditor untuk menerapkan strategi audit yang lebih komprehensif. Strategi audit yang dapat digunakan oleh auditor untuk siklus pengeluaran antara lain:

  • Penurunan risiko pengendalian

Auditor dapat menurunkan risiko pengendalian dengan melakukan pengujian pengendalian yang lebih mendalam. Pengujian pengendalian bertujuan untuk menilai efektivitas pengendalian internal yang diterapkan oleh klien.

  • Peningkatan risiko yang dapat diterima

Auditor dapat meningkatkan risiko yang dapat diterima dengan mengurangi luas pengujian substansi. Pengujian substansi bertujuan untuk mengumpulkan bukti audit yang cukup dan kompeten untuk mendukung opini audit.

  • Kombinasi dari kedua strategi tersebut

Auditor dapat menggunakan kombinasi dari kedua strategi tersebut. Misalnya, auditor dapat menurunkan risiko pengendalian untuk asersi yang memiliki risiko bawaan yang tinggi dan meningkatkan risiko yang dapat diterima untuk asersi yang memiliki risiko bawaan yang rendah.

Dalam praktiknya, auditor perlu mempertimbangkan berbagai faktor dalam menentukan strategi audit yang tepat untuk siklus pengeluaran. Faktor-faktor tersebut antara lain:

  • Materialitas
  • Risiko bawaan
  • Risiko pengendalian
  • Risiko inheren
  • Biaya audit

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor tersebut, auditor dapat menyusun strategi audit yang efektif untuk siklus pengeluaran.

Materialitas

Siklus pengeluaran merupakan proses inti bagi banyak industri dan mencerminkan jumlah serta volume transaksi dalam siklus ini dimana risiko terjadinya salah saji yang material adalah tinggi. Pengalokasian materialitas ke akun-akun yang dipengaruhi oleh transaksi dalam siklus ini akan bervariasi sesuai dengan pertimbangan. Pentingnya siklus pengeluaran ini juga bisa bervariasi menurut jenis usaha yang dijalankan.

Siklus pengeluaran merupakan proses inti bagi banyak industri dan mencerminkan jumlah serta volume transaksi dalam siklus ini dimana risiko terjadinya salah saji yang material adalah tinggi. Pengalokasian materialitas ke akun-akun yang dipengaruhi oleh transaksi dalam siklus ini akan bervariasi sesuai dengan pertimbangan. Pentingnya siklus pengeluaran ini juga bisa bervariasi menurut jenis usaha yang dijalankan.

Sebagai contoh, perusahaan manufaktur memiliki siklus pengeluaran yang lebih kompleks dan berisiko daripada perusahaan jasa. Hal ini karena perusahaan manufaktur biasanya memiliki banyak pemasok, tingkat persediaan yang tinggi, dan proses produksi yang kompleks.

Untuk menentukan materialitas siklus pengeluaran, auditor harus mempertimbangkan faktor-faktor berikut:

  • Persentase transaksi siklus pengeluaran terhadap total transaksi perusahaan
  • Jumlah rupiah transaksi siklus pengeluaran
  • Signifikansi akun-akun yang dipengaruhi oleh transaksi siklus pengeluaran
  • Persepsi auditor tentang risiko inheren dan risiko pengendalian siklus pengeluaran

Risiko

Risiko Inheren
Dalam menilai risiko inheren untuk asersi-asersi siklus pengeluaran, auditor harus mempertimbangkan faktor-faktor penting yang bisa mempengaruhi asersi-asersi diseluruh laporan keuangan, serta faktor-faktor yang berkaitan dengan asersi spesifik dalam siklus pengeluaran. Faktor-faktor penting yang dapat memotivasi manajemen untuk menyalahsajikan asersi-asersi siklus pengeluaran meliputi :
(a)           Tekanan untuk menetapkan terlalu rendah beban agar dapat membuat laporan yang memenuhi target profitabilitas atau norma industri yang telah ditetapkan, yang dalam kenyataan tidak tercapai akibat faktor-faktor seperti kondisi ekonomi global, nasional atau regional yang mempengaruhi biaya operasi, dampak perkembangan teknologi terhadap produktivitas perusahaan, atau manajemen yang tidak baik.
(b)          Tekanan untuk menetapkan terlalu rendah hutang agar bisa membuat laporan yang menunjukkan tingkat modal kerja yang lebih tinggi pada saat perusahaan sedang menghadapi masalah likuiditas atau keraguan tentang kelangsungan usahanya.

Dalam menilai risiko inheren untuk asersi-asersi siklus pengeluaran, auditor harus mempertimbangkan faktor-faktor penting yang bisa mempengaruhi asersi-asersi diseluruh laporan keuangan, serta faktor-faktor yang berkaitan dengan asersi spesifik dalam siklus pengeluaran.

Faktor-faktor penting yang dapat memotivasi manajemen untuk menyalahsajikan asersi-asersi siklus pengeluaran meliputi:

  • Tekanan untuk menetapkan terlalu rendah beban agar dapat membuat laporan yang memenuhi target profitabilitas atau norma industri yang telah ditetapkan
  • Tekanan untuk menetapkan terlalu rendah hutang agar bisa membuat laporan yang menunjukkan tingkat modal kerja yang lebih tinggi

Risiko Prosedur Analitis
Risiko prosedur analitis merupakan unsur risiko deteksi bahwa prosedur analitis tersebut akan gagal mendeteksi kekeliruan yang material.Prosedur analitis yang hanya berfokus pada pembelian dan hutang usaha akan memberikan informasi yang dapat diandalkan.

Risiko prosedur analitis merupakan unsur risiko deteksi bahwa prosedur analitis tersebut akan gagal mendeteksi kekeliruan yang material.

Prosedur analitis yang hanya berfokus pada pembelian dan hutang usaha akan memberikan informasi yang dapat diandalkan. Namun, auditor juga harus mempertimbangkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi asersi-asersi siklus pengeluaran, seperti:

  • Pembayaran atas barang yang tidak diterima
  • Gagal dalam mengambil diskon pembelian
  • Membayar tagihan yang sama dua kali
  • Pencurian kas

MENDAPATKAN PEMAHAMAN MENGENAI SPI DAN PENENTUAN RISIKO PENGENDALIAN SIKLUS PENGELUARAN

Pemahaman Mengenai SPI

Auditor harus memahami ketiga aspek struktur pengendalian intern yang ada dalam transaksi siklus pengeluaran, yaitu lingkungan pengendalian, sistem akuntansi, dan prosedur pengendalian. Pemahaman tersebut sangat berguna dalam menentukan strategi audit dalam rangka pengujian substansi.

Aspek lingkungan pengendalian

Auditor harus memahami struktur organisasi klien yang berkaitan dengan aktivitas siklus pengeluaran ini, sebagai contoh : semua proses pembelian barang-barang dibawah kendali direktur operasi, pencatatan dibawah kendali kontroler, sedangkan proses pengeluaran kas dibawah kendali direktur keuangan, pengaturan pembelian aktiva tetap (capital expendictures) dan kebijaksanaan investasi strategis lainnya akan dipertimbangkan bagaimana pelaksanaanya. Untuk memperoleh pemahaman terhadap bagan organisasi, auditor harus melakukan wawancara (inquiry) kepada manajemen.

Aspek lingkungan pengendalian berkaitan dengan sikap dan tindakan manajemen dan karyawan yang menciptakan lingkungan yang kondusif bagi terciptanya pengendalian yang efektif. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan oleh auditor dalam memahami aspek lingkungan pengendalian siklus pengeluaran meliputi:

  • Struktur organisasi yang berkaitan dengan aktivitas siklus pengeluaran
  • Kebijakan dan prosedur yang diterapkan oleh manajemen untuk mendorong kesadaran akan pengendalian
  • Kebijakan dan prosedur yang diterapkan untuk merekrut, melatih, dan mengevaluasi karyawan
  • Praktik-praktik yang diterapkan untuk memastikan bahwa informasi yang relevan dan tepat waktu tersedia bagi manajemen

Sistem akuntansi

Pemahaman terhadap sistem akuntansi menyebabkan auditor harus mempelajari metode pengolahan data, dokumen-dokumen kunci, serta catatan yang digunakan dalam penanganan transaksi siklus pengeluaran. Untuk itu auditor harus mempelajari manual akuntansi, bagan alir sistem akuntansi, dan melakukan wawancara dengan petugas bagian akuntansi untuk mengetahui proses pengolahan transaksi dalam siklus pengeluaran.

Aspek sistem akuntansi berkaitan dengan desain dan operasi sistem yang digunakan untuk mencatat, memproses, dan melaporkan transaksi siklus pengeluaran. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan oleh auditor dalam memahami aspek sistem akuntansi siklus pengeluaran meliputi:

  • Prosedur yang digunakan untuk mencatat transaksi pengeluaran
  • Prosedur yang digunakan untuk memproses transaksi pengeluaran
  • Prosedur yang digunakan untuk melaporkan transaksi pengeluaran

Prosedur Pengendalian

Aspek prosedur pengendalian berkaitan dengan tindakan yang diambil untuk memastikan bahwa tujuan pengendalian tercapai. Beberapa faktor yang perlu dipertimbangkan oleh auditor dalam memahami aspek prosedur pengendalian siklus pengeluaran meliputi:

  • Prosedur yang digunakan untuk mencegah dan mendeteksi kesalahan dan kecurangan
  • Prosedur yang digunakan untuk memastikan bahwa transaksi hanya dicatat satu kali
  • Prosedur yang digunakan untuk memastikan bahwa transaksi dicatat dengan benar
  • Prosedur yang digunakan untuk memastikan bahwa transaksi dicatat dalam periode yang tepat

Auditor harus memahami bagaimana kecenderungan kelima kategori prosedur pengendalian dalam operasi transaksi siklus pengeluaran ini. Kelima kategori tersebut antara lain :
a.              Adanya otorisasi yang memadai.
b.             Adanya pemisahan tugas.
c.              Adanya dokumen dan catatan akuntansi.
d.             Adanya akses kea rah pengendalian.
e.              Pengecekan yang di lakukan oleh personel yang independent

Auditor harus melakukan evaluasi apakah prosedur pengendalian dalam perusahaan benar-benar telah berjalan dengan baik. Prosedur pengendalian yang tidak memenuhi kelima criteria tersebut mempunyai kecenderungan risiko audit yang tinggi.

Risiko Pengendalian Siklus Pengeluaran

Risiko pengendalian adalah risiko bahwa suatu salah saji yang material dalam laporan keuangan tidak dapat dicegah atau dideteksi oleh sistem pengendalian internal entitas secara tepat. Risiko pengendalian merupakan salah satu faktor yang dipertimbangkan auditor dalam menentukan risiko audit. Risiko pengendalian adalah risiko bahwa salah saji material dalam laporan keuangan tidak dapat dicegah atau dideteksi oleh pengendalian intern entitas. Risiko pengendalian ditetapkan untuk masing-masing asersi laporan keuangan.

Dalam menetapkan risiko pengendalian siklus pengeluaran, auditor harus mempertimbangkan hasil pemahamannya terhadap SPI siklus pengeluaran. Auditor dapat menggunakan pendekatan kualitatif atau kuantitatif dalam menetapkan risiko pengendalian. Dalam memahami risiko pengendalian yang timbul dalam transaksi pengeluaran kas harus memperhatikan kemungkinan-kemungkinan salah saji, pengendalian yang dibutuhkan, serta kemungkinan pengujian yang harus dilakukan berikut ini :
a.              Terhadap transaksi pembayaran hutang.

  • Kemungkinan adanya pengeluaran cek untuk pembelian yang tidak disetujui, harus dikendalikan dengan cara penandatanganan cek melakukan penelaahan terhadap kelengkapan pendukung voucher dan persetujuannya. Auditor dapat melakukan pengujian dengan cara observasi apakah penandatanganan cek melakukan pengecekan dengan bebas terhadap dokumen pendukung.
  • Kemungkinan voucher dibayar dua kali, dikendalikan dengan pemberian cap terhadap voucher dan dokumen pendukungnya bila telah dibayar. Auditor dapat melakukan pengujian apakah semua pembayaran diberi cap.
  • Check mungkin dibayarkan untuk jumlah yang salah, dikendalikan dengan pengecekkan oleh pihak yang bebas mengenai kesesuaian jumlah dalam check dengan voucher-nya.
  • Check mungkin dirubah setelah ditandatangani, dikendalikan dengan pengecekan pemberian tanda cek yang dikirim. Auditor dapa melakukan pengujian dengan melakukan wawancara tentang prosedur pengiriman check, dan observasi proses pengiriman check.

b.             Terhadap transaksi pengeluaran kas.

  • Check mungkin tidak dicatat, dikendalikan dengan check yang bemomor urut tercetak. Auditor melakukan pengujian terhadap penggunaan dokumen bemomor urut tercetak.
  • Kesalahan-kesalahan dalam pencatatan check, dikendalikan dengan pembuatan rekonsiliasi bank secara periodik oleh pihak yang bebas. Auditor dapat melakukan pengujian terhadap bank rekonsiliasi.
  • Check tidak dicatat dengan segera, dikendalikan oleh pihak yang bebas untuk mencocokkan tanggal check dan tanggal pencatatannya. Pengujian yang dilakukan dengan memperlihatkan kembali adanya kebebasan dalam pengecekan.

Pendekatan kualitatif

Dalam pendekatan kualitatif, auditor menilai efektivitas pengendalian intern entitas berdasarkan kategori efektif, sedang, atau lemah. Auditor dapat menggunakan kata kunci atau frasa berikut untuk menilai efektivitas pengendalian intern:

  • Efektif: Pengendalian tersebut dirancang dan dilaksanakan secara efektif untuk mencegah atau mendeteksi salah saji material.
  • Sedang: Pengendalian tersebut dirancang dan dilaksanakan secara efektif, tetapi ada beberapa kelemahan yang dapat meningkatkan risiko terjadinya salah saji material.
  • Lemah: Pengendalian tersebut dirancang atau dilaksanakan secara tidak efektif, sehingga meningkatkan risiko terjadinya salah saji material.

Pendekatan kuantitatif

Dalam pendekatan kuantitatif, auditor menetapkan risiko pengendalian berdasarkan kemungkinan terjadinya salah saji material dan efektivitas pengendalian intern. Auditor dapat menggunakan model-model statistik untuk menetapkan risiko pengendalian.

REFERENSI

  • A.A. Nugroho, R.A. Utomo, dan A.S. Wardhani. 2021. The Effectiveness of Internal Control over Expenditure Cycle Transactions. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia. Volume: 16, Nomor: 2.
    American Institute of Certified Public Accountants (AICPA). 2023. Auditing: Assurance & Risk Management.
  • Arens, Alvin A., Elder, Randal J., Beasley, Mark S. Auditing and Assurance Services: An Integrated Approach, 16th Edition. Pearson Education, 2021.
  • B.W. Santoso dan M.S. Wibowo. 2023. The Use of Risk Assessment in the Audit of Expenditure Cycle. Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia. Volume: 18, Nomor: 1.
  • Hansen, Don R., dan Mowen, Maryanne M. (2022). Analisis Biaya-Volume-Laba. Edisi 16. Salemba Empat, Jakarta.
  • Horngren, Charles T., Sundem, Gary L., dan Harrison, Walter T. (2023). Analisis Biaya-Volume-Laba: Konsep dan Aplikasi. Edisi 17. Salemba Empat, Jakarta.
  • IAPI. (2011). Standar auditing (SA) 200: Tujuan umum auditor independen dan pelaksanaan audit sesuai dengan standar auditing. Jakarta: IAPI.
  • Ikatan Akuntansi Indonesia. (2021). Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 2: Aset Lancar. Jakarta: Ikatan Akuntansi Indonesia.
  • Information Systems Audit and Control Association (ISACA). 2022. Auditing and Assurance Services.
    Kieso, D. E., Weygandt, J. J., & Warfield, T. D. (2018). Intermediate accounting: IFRS edition (16th ed.). Wiley.
  • Modul CA – Sistem Informasi dan Pengendalian Internal (Plus Soal) – IAI. Dewan Standar Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Indonesia, 2023.
  • Mulyadi. (2018). Auditing: konsep dasar dan penerapannya. Jakarta: Salemba Empat.
  • Proses Bisnis: Siklus Pengeluaran – School of Information Systems. School of Information Systems, University of Melbourne, 2023.
  • PSAK 23: Pengendalian Internal atas Pelaporan Keuangan. Dewan Standar Akuntansi Keuangan, 2021.
  • Romney, M. B., & Steinbart, P. J. (2015). Accounting Information Systems (13th ed.). New York: Pearson.
  • Standar Audit Internasional (ISA) 315: Menilai Risiko Kesalahan Material Melalui Pemahaman Entitas dan Lingkungannya. International Auditing and Assurance Standards Board, 2021.
  • Standar Profesional Akuntan Publik (PSA) No. 69, Audit Atas Laporan Keuangan Entitas yang Menggunakan Sistem Informasi Berbasis Komputer
  • Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) – Standar Auditing (SA) Seksi 312, Prosedur Audit untuk Asersi Keberadaan atau Keterjadian
  • Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) – Standar Auditing (SA) Seksi 313, Prosedur Audit untuk Asersi Kelengkapan
  • Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) – Standar Auditing (SA) Seksi 314, Prosedur Audit untuk Asersi Hak dan Kewajiban
  • Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) – Standar Auditing (SA) Seksi 315, Prosedur Audit untuk Asersi Penilaian atau Alokasi
  • Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) – Standar Auditing (SA) Seksi 316, Prosedur Audit untuk Asersi Penyajian dan Pengungkapan
  • Suciati, S., & Nugroho, A. P. (2022). Pengaruh siklus pengeluaran kas terhadap kinerja keuangan perusahaan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, 19(1), 1-16.
  • Suwardjono. (2019). Akuntansi dasar (10th ed.). Salemba Empat.
  • Tuanakotta, Theodorus M. (2011). Akuntansi auditing: pemeriksaan akuntansi oleh akuntan publik. Jakarta: Salemba Empat.
  • Utami, R. E., & Sulistyowati, E. (2021). Analisis pengaruh siklus pengeluaran kas terhadap profitabilitas perusahaan. Jurnal Akuntansi dan Bisnis, 21(2), 123-133.
  • Warren, C. S., Reeve, J. M., & Duchac, J. J. (2019). Accounting: Principles and practice (21st ed.). Cengage Learning.
  • Yulianti, Y., & Sulistyani, E. (2020). Pengaruh siklus pengeluaran kas terhadap efisiensi perusahaan. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Indonesia, 25(1), 1-12.
Anda mungkin juga berminat
Comments
Loading...